Iklan Google AdSense

Peringatan Isra Mi’raj di Gowa, Bupati Husniah Ajak Perkuat Iman dan Akhlak di Tengah Tantangan Zaman

Bupati Gowa, Husniah Talenrang, menghadiri Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriyah

Bupati Gowa, Husniah Talenrang, menghadiri Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriyah. Foto (Ist)

HISTORIAL.ID – GOWA – Bupati Gowa, Husniah Talenrang, menghadiri Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriyah/2026 Masehi yang berlangsung khidmat di Masjid Agung Syekh Yusuf, Sungguminasa, Kamis (15/1).

Iklan Google AdSense

Peringatan Isra Mi’raj ini menjadi momentum refleksi spiritual bagi masyarakat Gowa untuk memperkuat keimanan sekaligus meneguhkan komitmen membangun akhlak mulia di tengah dinamika dan tantangan zaman.

Dalam sambutannya, Bupati Husniah menegaskan bahwa Isra Mi’raj bukan sekadar peringatan seremonial tahunan, melainkan sarana penting untuk memperdalam keimanan kepada Allah SWT serta meneladani nilai-nilai luhur dari perjalanan agung Rasulullah SAW.

“Banyak hikmah dan pelajaran dari peristiwa Isra Mi’raj yang dapat kita petik dan kita realisasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Isra Mi’raj merupakan peristiwa luar biasa yang menunjukkan kebesaran Allah SWT sekaligus kemuliaan Nabi Muhammad SAW.

Dari peristiwa inilah, umat Islam menerima perintah shalat lima waktu yang memiliki makna mendalam dalam pembentukan karakter.

“Shalat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi sarana membentuk pribadi yang disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan berakhlakul karimah,” tutur Husniah.

Bupati Husniah juga mengajak seluruh jamaah untuk melakukan introspeksi diri, sejauh mana shalat yang selama ini dilaksanakan mampu membentuk perilaku positif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Di sinilah pentingnya menjadikan shalat dan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi utama dalam membangun kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ketua DPW PAN Sulsel ini menekankan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada fisik dan infrastruktur, tetapi juga harus menyentuh pembangunan sumber daya manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.

Sebagai wujud komitmen tersebut, Pemerintah Kabupaten Gowa terus mendorong Program Gowa Mengaji, yang tidak hanya diterapkan di lingkungan pendidikan, tetapi juga diperluas kepada seluruh ASN dan masyarakat.

“Kami berharap budaya mengaji yang terus dilakukan ini dapat menghadirkan keberkahan dan membuka pintu rezeki dari Allah SWT, khususnya bagi Kabupaten Gowa,” harapnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat, ulama, tokoh agama, pendidik, hingga generasi muda, untuk bersama-sama menanamkan nilai-nilai keislaman dan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, dalam ceramahnya, Ustadz Prof. Dr. Arifuddin Ahmad mengajak jamaah mensyukuri nikmat Allah SWT karena masih diberikan kesempatan memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, sebuah peristiwa agung yang sarat nilai dan hikmah.

“Isra Mi’raj bukan sekadar catatan sejarah, tetapi mengandung pelajaran penting, termasuk bagaimana menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bahkan dalam menyelenggarakan pemerintahan,” jelasnya.

Ia mengisahkan bahwa peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada masa yang sangat berat dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW.

Saat itu, Nabi berada pada titik ujian yang luar biasa, setelah wafatnya sang paman tercinta, Abu Thalib, pelindung utama dakwah beliau, disusul wafatnya istri tercinta, Sayyidah Khadijah RA, sosok pendamping sekaligus penopang dakwah Rasulullah SAW.

“Abu Thalib adalah pelindung utama Rasulullah SAW, sementara Khadijah RA bukan hanya istri, tetapi juga sosok perempuan yang sepenuhnya menopang perjuangan dakwah,” tuturnya.

Namun justru pada puncak ujian itulah, Allah SWT menghadirkan Isra Mi’raj sebagai bentuk tasliyah atau penghiburan ilahiah bagi Rasulullah SAW.

“Dari peristiwa ini kita belajar bahwa dalam hidup, tantangan dan ujian pasti ada. Namun bersamaan dengan itu, Allah juga menghadirkan hiburan, jalan keluar, dan kemudahan,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an telah mengajarkan keseimbangan hidup melalui firman Allah SWT, “Inna ma‘al ‘usri yusrā”—sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Menurutnya, manusia membutuhkan keseimbangan dalam hidup, mulai dari literasi untuk menambah wawasan, interaksi untuk saling mengenal, rekreasi untuk menyegarkan jiwa, hingga regulasi agar semua berjalan tertib dan tidak berlebihan.

“Keempat hal ini, yaitu literasi, interaksi, rekreasi, dan regulasi, harus berjalan seimbang dan saling menguatkan demi kebaikan bersama,” pungkasnya. (*)

Iklan Bersponsor Google

Leave a Reply