Iklan Google AdSense

Saras, KNPI Memanggilmu: Panggilan Zaman untuk Satukan Pemuda

Syamsul Bahri Majjaga, Ketua KNPI Kota Makassar

Syamsul Bahri Majjaga, Ketua KNPI Kota Makassar. Foto (Int)

HISTORIAL.ID – Makassar – Di tengah hiruk-pikuk politik nasional yang kerap dipenuhi manuver dan kompromi, keputusan Rahayu Saraswati mundur dari jabatan publik memunculkan resonansi berbeda. Keputusan itu sederhana, namun sarat makna.

Iklan Google AdSense

Bagi Syamsul Bahri Majjaga, Ketua KNPI Kota Makassar, langkah tersebut bukan sekadar mundur, melainkan cermin kesatria perempuan yang langka dalam lanskap politik Indonesia.

“Alasan beliau sederhana, tidak ingin dibenturkan dengan rakyat. Tapi kesederhanaan itu justru menunjukkan prinsip. Itulah sikap kesatria seorang perempuan,” ujar Zul Majjaga, Kamis (11/9).

Menurut Zul, integritas dan moral yang ditunjukkan Saras adalah aset berharga di tengah rusaknya kepercayaan publik terhadap elit politik. Justru karena itu, ia memberi catatan tegas: moral publik yang sudah dibangun Saras bisa tercoreng jika suatu hari ia menerima kursi menteri di kabinet Prabowo.

“Kalau ternyata masuk kabinet, maka itu akan mencederai moral publik yang sudah beliau tegakkan. Keputusan mundur akan terlihat hanya sebagai manuver politik, bukan ketulusan,” tegas Zul.

Namun Zul tidak berhenti pada kritik. Ia melihat langkah mundur Saras sebagai jalan baru: sebuah panggilan zaman. Baginya, kehadiran Saras justru dibutuhkan dalam semangat penyatuan gerakan pemuda.

“Saras, KNPI memanggilmu untuk mengabdi dan berhimpun dalam satu tekad. Pemuda butuh figur utuh, anak muda berkarakter luhur yang bisa menyatukan, bukan memecah. Lebih baik beliau hadir menyatukan KNPI, daripada terjebak dalam pragmatisme politik kekuasaan,” jelasnya.

Bagi Zul, KNPI membutuhkan energi segar, figur yang bukan hanya hadir sebagai simbol, tetapi juga menjadi teladan integritas. Itulah sebabnya ia mendorong Saras untuk melangkah ke jalan yang lebih fundamental: menjadi Ketua Umum KNPI, menahkodai persatuan pemuda Indonesia.

“Panggilan pemuda hari ini adalah menatap Indonesia Emas dalam pergaulan global. Itu hanya bisa tercapai bila kita punya figur pemersatu, yang bisa membawa semangat kebangsaan ke level dunia. Saras punya modal itu,” pungkas Zul.

Iklan Bersponsor Google

Leave a Reply