Dg Siriwa: Husniah Talenrang, dan Luka Politik yang Kita Ciptakan Sendiri
Iklan Google AdSense
Sebagai orang Kabupaten Gowa, saya tumbuh dengan satu keyakinan bahwa daerah ini dibangun bukan hanya oleh kekuatan kekuasaan, tetapi oleh nilai siri’, penghormatan, dan cara manusia memuliakan sesamanya. Gowa sejak dahulu dikenal sebagai tanah yang keras dalam prinsip, tetapi hangat dalam kemanusiaan. Karena itu saya sering bertanya dalam hati, mengapa akhir-akhir ini politik kita terasa semakin kehilangan rasa?
Di tengah suasana itu, nama Husniah Talenrang menjadi salah satu figur yang terus diserang oleh berbagai isu. Ada kritik yang mungkin wajar dalam demokrasi, tetapi ada pula serangan yang perlahan kehilangan etika. Dan saya kira, sebagai masyarakat Gowa, kita perlu jujur melihat ini bukan hanya sebagai pertarungan politik biasa, melainkan cermin tentang bagaimana kita memperlakukan seorang perempuan yang memilih jalan pengabdian.
Saya tidak sedang berbicara soal dukung-mendukung politik. Saya sedang berbicara tentang cara kita memandang ketulusan.

Sebab hari ini, ada kecenderungan aneh dalam politik kita: ketika seseorang terlalu dekat dengan rakyat, ia dicurigai. Ketika seorang pemimpin bekerja dengan hati, ia dianggap sedang membangun pencitraan. Bahkan ketika seorang perempuan hadir dengan kelembutan dan kepedulian sosial, sebagian orang justru melihatnya sebagai kelemahan.
Lalu saya bertanya: Jika kebaikan politik dianggap tidak lazim, lalu apa arti pengabdian?
Jika ketulusan dianggap penghalang dalam kekuasaan, lalu untuk apa seseorang memilih mengorbankan hidupnya di jalan politik?
Saya kira persoalan terbesar politik hari ini bukan semata perebutan kekuasaan, tetapi hilangnya kemampuan kita membedakan mana ambisi dan mana pengabdian.
Sebagai perempuan, Husniah menghadapi beban yang mungkin tidak dirasakan banyak laki-laki dalam dunia politik. Ia tidak hanya dituntut bekerja, tetapi juga harus menghadapi prasangka yang terus mengikuti langkahnya. Dalam budaya politik yang masih sangat maskulin, perempuan sering dipaksa membuktikan dirinya berkali-kali lebih keras.
Ketika laki-laki marah, disebut tegas. Ketika perempuan tegas, dianggap emosional.
Ketika laki-laki dekat dengan rakyat, disebut merakyat. Ketika perempuan melakukan hal yang sama, dianggap memainkan simpati.
Di sinilah saya teringat pemikiran Carol Gilligan tentang ethics of care, bahwa kepemimpinan perempuan lahir dari naluri merawat kehidupan sosial. Perempuan memimpin bukan hanya dengan instruksi, tetapi dengan empati. Dan mungkin karena politik kita terlalu lama dibangun dengan logika dominasi, maka pendekatan seperti itu terasa asing bagi sebagian orang.
Padahal rakyat sesungguhnya tidak selalu membutuhkan pemimpin yang paling keras suaranya. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu memahami kecemasan mereka, hadir dalam kesulitan mereka, dan tidak kehilangan hati ketika memiliki kekuasaan.
Saya melihat Husniah berada di persimpangan itu.
Ia sedang menghadapi realitas politik yang keras, tetapi tetap mencoba mempertahankan cara-cara yang manusiawi. Dan justru karena itu, ia mudah diserang. Sebab politik yang terlalu tulus sering kali membuat banyak orang tidak nyaman.
Tetapi mungkin memang beginilah nasib banyak orang baik dalam politik: lebih mudah dicurigai daripada dipercaya.
Sebagai orang Gowa, saya sedih melihat ruang publik kita semakin dipenuhi kebencian. Kita terlalu cepat menghakimi, terlalu mudah menghancurkan karakter seseorang, sementara kita sendiri mulai lupa bahwa daerah ini diwariskan oleh nilai penghormatan dan martabat.
Gowa tidak boleh kehilangan kemanusiaannya hanya karena politik.
Kita boleh berbeda pilihan. Kita boleh berbeda pandangan. Tetapi jangan sampai kita kehilangan kemampuan menghormati orang yang sedang berjuang mengabdi dengan caranya sendiri.
Karena pada akhirnya, jabatan akan selesai. Kekuasaan akan berganti. Tetapi cara kita memperlakukan manusia lain akan tinggal sebagai catatan sejarah dan ingatan moral masyarakat.
Dan saya percaya, seorang perempuan yang memilih bertahan di tengah kerasnya politik sambil tetap menjaga nurani, sesungguhnya sedang menunjukkan bentuk keberanian yang paling sunyi. (DS)

Iklan Bersponsor Google
Leave a Reply