Iklan Google AdSense

Buat Apa Husniah Talenrang di Gowa?

Catatan Perempuan Gowa tentang Kepemimpinan yang Tidak Banyak Bicara

Catatan Perempuan Gowa tentang Kepemimpinan yang Tidak Banyak Bicara oleh Sitti Syahidah Takdir. Foto (Ist)

HISTORIAL.ID – 2025  Akhir ; Catatan Perempuan Gowa tentang Kepemimpinan yang Tidak Banyak Bicara’

Iklan Google AdSense

Oleh: Sitti Syahidah Takdir

Nama saya Sitti Syahidah Takdir. Saya tinggal dan bermukim di Samata, Kelurahan Romang Polong , Kabupaten Gowa, menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, mendampingi suami yang berprofesi sebagai advokat, yang juga mengabdikan pengetahuan organisasinya di KNPI Sulawesi Selatan.

Saya menulis ini bukan sebagai pejabat, bukan pula sebagai pengamat akademik, juga bukan followers apalagi tim dari ibu Husniah Talenrang,  Saya menulis sebagai perempuan Gowa, yang sejak kecil diajarkan untuk tidak terlalu percaya pada kata-kata manis, apalagi jika belum dibuktikan di dapur dan di halaman rumah.

Maka izinkan saya memulai dengan kalimat yang mungkin terdengar kurang sopan, tapi jujur:  buat apa Husniah Talenrang di Gowa?

Bisa apa dia, selain lip service dan konten media sosial yang lalu-lalang cepat di beranda ponsel saya?

Di Gowa, kamera tidak otomatis berarti kerja. Senyum tidak selalu identik dengan kinerja. Kami terbiasa mengukur pemimpin dari hal yang lebih konkret: atap rumah, isi panci, dan apakah hidup rakyat terasa lebih ringan atau tidak.

Namun lama-lama, saya berhenti menggulir. Saya menonton utuh. Dan di situ saya mulai merasa terganggu, bukan karena kontennya buruk, tapi karena isinya terlalu jujur.

Wajah-wajah warga Gowa yang muncul di kamera itu tidak sedang berakting. Ada mata yang lelah, suara yang tertahan, dan ekspresi orang-orang yang tidak terbiasa mengeluh tapi akhirnya harus bicara. Data tentang kemiskinan ekstrem dan pendapatan rumah tangga muncul dengan cara yang tidak dramatis, justru karena terlalu nyata.

Ini bertabrakan dengan bayangan saya tentang Gowa.

Setahu saya, rakyat Kabupaten Gowa dikenal tangguh. Tingkat kemalangan sosialnya relatif berada di atas rata-rata beberapa daerah lain di Sulawesi Selatan.

Petani di dataran tinggi Gowa terkenal ulet; sekali turun ke sawah, pantang pulang sebelum cukup.

Pedagang pasar di Sungguminasa dikenal tahan banting, hari ini rugi, besok tetap buka. Perempuan-perempuannya terbiasa mengatur ekonomi rumah tangga dengan disiplin yang tidak diajarkan di bangku sekolah. Dalam banyak keluarga, hidup memang sederhana, tapi terasa sejahtera. Tidak mewah, tapi cukup. Tidak bergantung, tapi mandiri.

Namun kamera itu membuka tabir lain. Ternyata ada rumah yang atapnya nyaris runtuh. Ada keluarga yang hidupnya rapuh bukan karena malas, tapi karena tak pernah benar-benar dijangkau kebijakan.

Di sinilah program bedah rumah tidak lagi terdengar sebagai slogan, melainkan pengakuan bahwa ada warga yang selama ini luput dari peta kesejahteraan.

Begitu pula dengan program orang tua asuh. Ini bukan kebijakan yang heroik atau gemerlap. Tidak cocok untuk baliho besar. Tapi sangat masuk akal bagi budaya Gowa: yang kuat menopang yang lemah, bukan untuk pamer, tapi karena itu kewajiban.

Negara hadir bukan sebagai penyelamat yang berisik, melainkan sebagai keluarga yang akhirnya ingat ada anggota yang tertinggal.

Kebijakan yang berorientasi pada pemberdayaan rumah tangga juga bergerak dalam sunyi. Tidak dengan jargon kemandirian ekonomi, tapi dengan pelatihan, akses, dan kepercayaan bahwa ibu-ibu bukan objek bantuan. Mereka adalah pusat ekonomi keluarga, penyangga utama ketahanan sosial.

Dalam teori kepemimpinan modern, gaya ini dikenal sebagai transformational leadership, pemimpin yang mengubah keadaan dengan menguatkan manusia di dalamnya. Carol Gilligan menyebutnya sebagai ethics of care, kepemimpinan yang bertumpu pada empati, relasi, dan tanggung jawab sosial. Tokoh-tokoh seperti Jacinda Ardern atau Ellen Johnson Sirleaf menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan tidak harus keras untuk efektif.

Perempuan Gowa sudah lama mempraktikkan teori ini, bahkan sebelum teori itu diberi nama. Di rumah-rumah kami, perempuan memimpin tanpa titel: mengatur uang belanja, menenangkan konflik, memastikan anak tetap sekolah, dan dapur tetap berasap. Kepemimpinan berjalan senyap, tapi menentukan arah hidup keluarga.

Husniah Talenrang, dalam banyak hal, bergerak di jalur ini. Ia tidak menutup kenyataan demi citra daerah. Ia justru membuka fakta, meski itu berarti mengganggu rasa nyaman kita yang terlanjur percaya bahwa Gowa selalu baik-baik saja. Sederhananya, kita sering bangga pada angka dan statistik, tapi lupa bahwa angka-angka itu punya wajah. Dan seorang perempuan datang membawa kamera, bukan untuk mempercantik cerita, tapi untuk memperlihatkan wajah-wajah yang selama ini tak masuk laporan.

Jadi, buat apa Husniah Talenrang di Gowa?

Mungkin untuk mengingatkan kita bahwa kepemimpinan tidak selalu harus lantang. Kadang ia cukup hadir di rumah yang bocor, di anak yang hampir putus sekolah, di ibu yang butuh sedikit dorongan agar berani bangkit kembali.

Sebagai perempuan Gowa, saya tahu satu hal: kami tidak butuh pemimpin yang pandai bicara. Kami butuh pemimpin yang berani jujur, konsisten bekerja, dan tidak takut membuka kenyataan.

Semoga Ibu Bupati Husniah Talenrang tetap memimpin dengan cara perempuan Gowa, tidak sibuk mencari pujian, tetapi sibuk memastikan rakyatnya tidak tertinggal. Karena di Gowa, pemimpin yang baik bukan yang paling sering terlihat, melainkan yang paling terasa dampaknya. (*)

 

Iklan Bersponsor Google

Leave a Reply