HISTORIAL.ID – KIEV – Ukraina menghadapi serangan udara terbesar sejak invasi Rusia dimulai pada Februari 2022. Dalam pernyataan resmi, Angkatan Udara Ukraina mengungkapkan bahwa Rusia meluncurkan total 741 senjata udara, terdiri dari 728 drone kamikaze dan 13 rudal, pada malam hari antara 8 dan 9 Juli 2025.
Iklan Google AdSense
Serangan tersebut menghantam lebih dari sepuluh wilayah, termasuk Lutsk di wilayah Volyn yang menjadi salah satu target utama karena keberadaan infrastruktur militer penting. Laporan menyebutkan bahwa sistem pertahanan udara Ukraina berhasil menghancurkan 296 drone dan 7 rudal, sementara sisanya dipaksa keluar jalur menggunakan sistem electronic warfare.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai bukti bahwa Moskow terus menolak jalan damai.
“Serangan ini terjadi saat upaya internasional sedang digencarkan untuk mencapai gencatan senjata. Rusia justru menunjukkan penolakannya terhadap perdamaian,” tulis Zelensky melalui media sosial.

Zelensky juga menyerukan sanksi internasional yang lebih keras terhadap Rusia, terutama pada sektor energi, serta meminta bantuan sistem pertahanan udara tambahan dari negara-negara mitra, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Sementara itu, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa atau kerusakan material akibat serangan ini. Namun pihak berwenang Ukraina memperingatkan bahwa eskalasi serangan bisa terus berlanjut dalam beberapa hari mendatang.
Serangan ini memicu reaksi dari negara-negara Barat. Beberapa unit tempur NATO di Eropa Timur dilaporkan dalam status siaga tinggi sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi perluasan konflik.
Sumber: ABC News, Reuters, Ap News

Iklan Bersponsor Google
Leave a Reply