HISTORIAL.ID – Setelah selesai mengimami para nabi dan rasul pendahulunya, Jibril kemudian mendatangi Rasulullah SAW dengan membawa dua mangkok atau gelas. Satu gelas berisikan minuman beralkohol (semacam anggur), dan satunya lagi berisikan susu segar.
Iklan Google AdSense
Jibril pun menawarkan kepada Rasulullah untuk memilih salah satunya dan meminumnya. Dengan bijaksana, Rasulullah memilih gelas yang berisikan susu (laban) dan meminumnya.
Pilihan Rasulullah ini mendapat pujian dari Jibril sebagai pilihan yang mencerminkan “fitrah”. Pilihan ini lebih dari sekadar mencerminkan kemurnian dan kesehatan; ia menggambarkan kondisi batin yang suci dan jiwa yang bersih.
Tentu saja, hal ini tak lepas dari proses yang terjadi di Masjidil Haram sebelumnya, di mana dada beliau dibuka, dibersihkan dengan air zamzam, dan diisi dengan keimanan yang kokoh.

Penting untuk dicatat bahwa pada saat itu khamar (alkohol) belum diharamkan. Belum ada ketentuan mu’amalat yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW.
Namun, meskipun demikian, Rasulullah menghindari khamar dan memilih susu. Ini adalah gambaran yang jelas bahwa ketika seseorang memiliki hati yang bersih dan sehat, maka pilihan hidupnya pun akan bersih dan sehat, sesuai dengan fitrah. Dan di sinilah kita semakin meyakini bahwa antara fitrah kemanusiaan dan ajaran agama Islam, keduanya sejalan dan senyawa.
Hal-hal yang baik dan benar menurut agama Islam juga akan diterima sebagai sesuatu yang baik dan benar oleh fitrah manusia.
Tawaran Jibril kepada Rasulullah untuk memilih antara khamar dan susu mencerminkan realitas kehidupan manusia.
Hidup manusia sering kali menghadapkan kita pada dua pilihan: yang benar (al-haq) dan yang salah (bathil), yang baik (thoyyib) dan yang buruk (khobits), yang bermanfaat (beneficial) dan yang merugikan (harmful).
Manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan ini setiap hari, dan Islam hadir dengan tawaran terbuka kepada manusia: “Man syaa fal yu’min wa man syaa fal yakfur” (siapa yang ingin beriman, silakan; namun siapa yang ingin kafir, juga silakan).
Ini menunjukkan bahwa manusia diberikan kebebasan untuk memilih, sebagai bagian dari kemuliaannya (karomah) sebagai makhluk Allah yang terbaik (ahsanu taqwiim).
Namun, dalam menentukan pilihan hidup, manusia memerlukan hati yang bersih (fitrah). Oleh karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya memelihara hati dalam banyak referensi agama, baik dalam Al-Qur’an maupun Hadis.
Islam mengingatkan kita untuk menjaga ke-fitrah-an jiwa agar kita tidak keluar dari jalan kebenaran.
“Beruntunglah orang yang mensucikan hatinya” (Al-A’laa).
“Beruntunglah siapa yang mensucikannya, dan rugilah siapa yang mengotorinya” (As-Syams).
Namun, kenyataannya, saat ini umat manusia sedang mengalami kerusakan yang parah akibat pengrusakan fitrah.
Kerusakan fitrah inilah yang membuat manusia memilih jalan hidup yang bertentangan dengan kodratnya dan menyebabkan munculnya banyak paradoks dalam kehidupan.
Tak perlu memberi contoh yang banyak, karena akibat kerusakan fitrah itu, manusia kini tidak lagi merasa malu melakukan hal-hal yang bahkan hewan pun tidak melakukannya.
Kerusakan fitrah yang menyebabkan manusia memilih pilihan hidup yang salah, akhirnya membawa kepada kerusakan (fasaad) di mana-mana.
Dalam Surah Ar-Rum, Allah berfirman:
“Kerusakan telah nampak di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia.”
Berbagai kerusakan yang kita saksikan dan rasakan sekarang, seperti kerusakan lingkungan, pertumpahan darah, kemiskinan, dan runtuhnya nilai-nilai sosial, tak terlepas dari pilihan-pilihan hidup yang salah, yang pada dasarnya berasal dari kerusakan hati.
Dan sekali lagi, pilihan hidup yang salah ini muncul karena kegagalan manusia dalam menjaga hati. Inilah yang telah diingatkan oleh Rasulullah SAW sejak lama:
“Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal darah. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Namun jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, upaya memperbaiki dunia ini tidak mungkin berhasil tanpa kesadaran untuk menjaga hati. Hati adalah sumber segala hal, baik atau buruk. Maka, marilah kita senantiasa memilih susu, dan hindarilah untuk memilih khamar!

Iklan Bersponsor Google
Leave a Reply