Iklan Google AdSense

Tentara Ukraina Ingin Perang Segera Berakhir, Kelelahan Hadapi Serangan Rusia

Tentara Ukraina beristirahat sejenak sebelum kembali ke medan perang untuk mempertahankan negaranya dari serangan Rusia. AP Photo/Libkos.

Tentara Ukraina beristirahat sejenak sebelum kembali ke medan perang untuk mempertahankan negaranya dari serangan Rusia. AP Photo/Libkos.

HISTORIAL.ID – Tentara Ukraina kini mengalami kelelahan luar biasa dalam menghadapi tentara Rusia, yang semakin kuat setelah mendapatkan dukungan dari Korea Utara.

Iklan Google AdSense

Seorang tentara Ukraina bahkan mengungkapkan keinginannya agar perang segera berakhir.

Tentara tersebut mengaku bahwa kondisi di garis depan semakin sulit, terutama dengan adanya gelombang serangan yang tak henti-hentinya.

Di Kursk, para tentara Ukraina berusaha mempertahankan wilayah yang mereka rebut dari Rusia pada Agustus lalu, yang mencakup ratusan kilometer persegi.

Namun, mereka kini menghadapi kesulitan besar, baik dari tentara Korea Utara yang terlatih maupun dari unit-unit militer Rusia yang terus mengadaptasi taktik mereka.

“Saya sejujurnya berpikir kami tak akan bisa bertahan lama,” kata Chapi, seorang tentara asing yang bertugas di Ukraina, dalam wawancaranya dengan CBC pada Jumat (24/1/2025).

Chapi, yang merupakan nama samaran sesuai dengan aturan militer Ukraina, menjelaskan situasi semakin memburuk, terutama di Kursk.

Chapi menyebutkan bahwa kekurangan pasukan dan persenjataan menjadi tantangan besar dalam menghadapi kekuatan militer Rusia yang diperkuat ribuan tentara Korea Utara yang terlatih.

Setelah berhasil merebut Kursk dalam serangan mendadak pada Agustus lalu, semangat militer dan masyarakat Ukraina sempat bangkit.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina kehilangan sebagian besar wilayah yang sebelumnya direbut.

Chapi, yang telah bertempur di Ukraina sejak 2022, mengatakan bahwa meskipun banyak orang yang dimobilisasi untuk mengisi kekosongan di garis depan, pasukan yang kurang terlatih serta peralatan yang terbatas membuat perjuangan semakin berat.

Ia juga menambahkan bahwa pembicaraan damai sepertinya belum bisa dijadikan solusi dalam waktu dekat.

Ia mengingat kembali pengalaman ketakutan yang serupa saat pertempuran Bakhmut hampir setahun yang lalu, saat tentara bayaran Wagner dan tahanan yang dijadikan tentara dikirimkan ke medan perang.

Namun kali ini, Chapi menilai, tentara Korea Utara jauh lebih terlatih dan siap tempur. Selain itu, kemajuan teknologi drone dan ancaman udara yang terus-menerus memperburuk situasi.

Pejabat Ukraina sebelumnya mengatakan bahwa merebut Kursk bertujuan untuk menciptakan zona penyangga. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump telah mendorong agar perang segera diakhiri.

Terdapat spekulasi bahwa Kursk mungkin akan menjadi alat tawar-menawar, namun itu hanya bisa terwujud jika Ukraina mampu bertahan.

Chapi juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap moral pasukan di garis depan. Banyak tentara yang kini tidak lagi memiliki semangat seperti sebelumnya.

Banyak di antaranya yang bukan sukarelawan, melainkan dipaksa untuk berperang sebagai wajib militer. “Banyak dari mereka tidak ingin berada di sini. Mereka hanya ingin selamat dari perang,” ujar Chapi.

Iklan Bersponsor Google

Leave a Reply