HISTORIAL.ID – Sulit menahan keinginan untuk mengambil risiko, keyakinan bahwa keberuntungan akan berpihak kali ini, tak bisa mengendalikan pengeluaran, dan tak peduli utang semakin menumpuk.
Iklan Google AdSense
Itu semua menggambarkan apa yang terjadi pada seseorang yang kecanduan judi disebut sebagai “gangguan perjudian” dalam buku panduan medis.
Menurut Asosasi Psikiatri Amerika, kecanduan judi diidentifikasi dengan pola pertaruhan yang berulang dan terus menerus dilakukan walaupun telah menimbulkan banyak masalah dalam kehidupan seseorang.
Apa yang terjadi di dalam pikiran seseorang yang menderita gangguan perjudian? Mengapa sebagian pejudi mengalami gangguan ini, sedangkan sebagian lainnya tidak? Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kecanduan ini?

Menyelami otak pecandu judi
Psikiater Lucas Spanemberg, seorang peneliti di Institut Otak Universitas Katolik Kepausan Rio Grande do Sul (PUC-RS), menyoroti bahwa kecanduan judi memiliki akar yang sama dengan jenis kecanduan lainnya, seperti kecanduan zat (alkohol, nikotin, kokain, dan sebagainya) dan kecanduan perilaku (seperti seks, makanan, belanja, dan sebagainya).
“Kita punya area di otak yang disebut sistem limbik, di mana terdapat serangkaian struktur yang saling terkoneksi dan membentuk reward circuit (sirkuit penghargaan). Sirkuit ini berfungsi memberikan perasaan puas,” kata Spanemberg.
Apa pun yang membuat kita senang, entah itu aktivitas seksual, makan makanan yang kita sukai, dekat dengan orang yang kita cintai memicu pelepasan neurotransmitter dopamin di sirkuit ini.
“Proses ini sangat penting untuk kelangsungan hidup dan evolusi kita sebagai individu dan spesies,” jelas Spanemberg.
Sementara Dokter Vinícius Andrade, dari Komisi Kecanduan Asosiasi Psikiatri Brasil menunjukkan bahwa ada area lain di otak yang juga terganggu akibat kecanduan judi.
“Ini adalah area korteks prefrontal, yang dekat dengan dahi dan bertanggung jawab untuk mengambil keputusan dan memecahkan masalah,” kata Dokter Andrade yang juga berpraktik di Klinik Rawat Jalan Gangguan Impuls di University of São Paulo (USP).
“Dalam studi yang mengevaluasi individu dengan gangguan kecanduan gim, penurunan konektivitas di area seperti korteks orbitofrontal medial, striatum, dan korteks cingulate anterior juga diamati,” jelasnya.
Beberapa penelitian juga menyebutkan adanya perubahan pada amigdala, yang berkaitan dengan regulasi stres.
Imbasnya, semua kondisi yang berbeda ini membuat seseorang sulit mengambil keputusan yang masuk akal dan rasional, misalnya apakah menghabiskan banyak uang untuk bertaruh akan menguntungkan mengingat risikonya tinggi.
Skenario gangguannya bisa terjadi dengan beberapa cara. Di satu sisi, ada banyak sekali dopamin di sirkuit penghargaan yang membuat ketagihan.
Di sisi lain, terjadi kekacauan di sirkuit saraf yang seharusnya membuat keputusan rasional dan penuh pertimbangan, misalnya, tidak menggunakan uang cicilan rumah atau tagihan bulanan untuk berjudi.
Tetapi apakah efek yang sama terjadi pada semua jenis permainan, mulai dari taruhan di toko lotre, kasino, hingga aplikasi judi online di ponsel Anda?
Menurut para pakar, masalahnya berkaitan dengan paparannya.
Dalam kasus lotre, Anda harus meluangkan waktu dan energi untuk pergi ke tempatnya. Sementara itu, aplikasi judi online “melekat” pada orang itu sepanjang waktu karena ada di ponsel.
“Dulu, orang harus pergi ke suatu tempat untuk bermain. Sekarang mereka terus-menerus dibombardir dengan kemungkinan untuk menang dan mendapatkan hadiah. Hal ini mengubah tingkat pemaparan dan intensitasnya,” kata Andrade.
“Kita juga tahu kalau perusahaan-perusahaan teknologi itu mengumpulkan data pengguna, yang menambah amunisi mereka untuk meningkatkan stimulasi dan menarik perhatian,” tambahnya.
Apa ciri-cirinya?
Asosiasi Psikiatri Amerika menyatakan seseorang dapat didiagnosa kecanduan judi kalau memiliki setidaknya empat gejala dari daftar berikut ini:
Sering memikirkan perjudian (seperti mengingat taruhan sebelum-sebelumnya atau merencanakan taruhan di masa depan).
Merasa butuh berjudi, ditandai dengan meningkatnya jumlah uang yang dipertaruhkan untuk mencapai titik kegembiraan yang sama.
Berulang kali gagal mengendalikan, mengurangi atau berhenti berjudi
Gelisah atau lekas marah ketika mencoba mengurangi atau berhenti berjudi.
Menganggap berjudi sebagai cara untuk melarikan diri dari masalah atau stres
Setelah kehilangan uang atau sesuatu yang berharga saat berjudi, merasa perlu untuk terus berjudi demi “membalas dendam”.
Setelah kehilangan uang atau sesuatu yang berharga saat berjudi, merasa perlu untuk terus bermain untuk “mencapai titik impas” semacam memulihkan kerugian.
Bermain ketika merasa sedih
Berbohong demi menyembunyikan seberapa besar Anda terjerat judi.
Kehilangan kesempatan penting dalam kehidupan pribadi dan profesional karena berjudi.
Mengandalkan orang lain untuk membantu Anda mengatasi masalah keuangan yang disebabkan oleh perjudian.
Andrade menekankan pentingnya dukungan dari keluarga dan teman untuk mendiagnosis kondisi ini.
“Ketika kita membahas perjudian, umumnya orang-orang berbohong dan menyembunyikan kerugian mereka atau berapa kali mereka bertaruh,” kata Andrade.
“Pada saat yang sama, dia punya keinginan yang besar untuk bermain, dengan dorongan yang sangat kuat. Seolah merasa lapar tapi tidak bisa makan,” sambungnya.
Dia juga mengatakan bahwa ketika pasien tidak mendapat dukungan dari orang-orang sekitarnya, maka dia baru akan terlambat mencari bantuan profesional.
“Dan ini menyebabkan kerugian ekonomi dan keluarga yang sangat besar,” tutur Andrade.
Bagaimana menangani gangguan perjudian?
Setelah diagnosis dilakukan, ada serangkaian tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kecanduan.
“Pendekatannya sangat bergantung pada karakteristik pasien,” kata Spanemberg.
“Kebanyakan dari mereka memiliki gangguan kejiwaan lain yang terkait seperti depresi, yang juga membutuhkan perawatan.”
“Berjudi sering kali menjadi dalih untuk mengatasi perasaan negatif yang terkait dengan gangguan lain,” sambungnya.
Dengan mengobati gangguan mental yang mendasari seperti depresi atau kecemasan, perasaan negatif yang muncul akan berkurang sehingga kebutuhan untuk berjudi pun menurun.
Secara umum, gangguan perjudian dapat diatasi melalui terapi perilaku kognitif, sejenis psikoterapi di mana pasien dan profesional kesehatan mengevaluasi dan mendiskusikan perilaku dan pikiran, sehingga dapat dimodifikasi dari waktu ke waktu.
“Ada juga wawancara motivasi, sebuah pendekatan yang digunakan untuk memahami tahap kesadaran individu mengenai kecanduan,” kata Spanemberg.
“Mereka mungkin berada dalam fase penyangkalan terhadap masalah atau merenungkan apa yang mereka alami. Ada juga yang sudah berada dalam tahap tindakan, berusaha untuk keluar dari situasi tersebut,” ujarnya.
Dalam beberapa kasus, dokter juga dapat meresepkan obat.
“Kami tahu bahwa obat-obatan di kelas antagonis opioid dapat membantu mengekang dorongan untuk berjudi,” kata Andrade.
Dia juga menyebut pentingnya komunitas pendukung.
“Di Brasil, kami memiliki Gamblers Anonymous dan Pecandu Judi, yang bekerja dengan sangat baik,” sarannya.

Iklan Bersponsor Google
Leave a Reply