HISTORIAL.ID – KOLOM TOKOH – Nama Samsudin Andi Arsyad, atau yang lebih dikenal sebagai Haji Isam, belakangan ini semakin sering mencuat ke publik. Pengusaha asal Kalimantan Selatan ini beberapa bulan lalu menerima tanda jasa dan kehormatan dari Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, bersama 140 tokoh lainnya.
Iklan Google AdSense
Kisah sukses dan kekayaan Haji Isam sebelumnya hanya dikenal secara terbatas di lingkup regional. Namun kini, sosoknya telah menjadi sorotan nasional.
Ia bahkan mulai sering terlihat dalam berbagai acara penting, duduk sejajar dengan para taipan besar seperti Franky Oesman Widjaja, pewaris Sinar Mas Group.
Tak hanya itu, dalam sebuah kunjungan kenegaraan, Haji Isam juga tampak mendampingi Presiden Prabowo bertemu dengan pendiri Microsoft dan salah satu orang terkaya dunia, Bill Gates. Dilansir media CNBC, Minggu (21/9).

Haji Isam bisa dikatakan sebagai “orang kaya baru”, terutama jika dibandingkan dengan konglomerat lama seperti keluarga Hartono, Salim, atau Wijaya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kekayaannya melonjak drastis, terutama setelah beberapa perusahaannya melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan estimasi dari CNBC Indonesia, total kekayaan Haji Isam dan anaknya dari dua perusahaan publik yang dikendalikan—PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN)—mencapai Rp14,16 triliun atau hampir menyentuh US$ 1 miliar.
Namun angka itu belum mencerminkan seluruh kekayaan Haji Isam. Pasalnya, sebagian besar asetnya berada di perusahaan non-publik, termasuk bisnis tambang batu bara, pelayaran, dan logistik yang nilainya diperkirakan sangat besar.
Jika digabungkan, sejumlah pihak meyakini total kekayaannya bisa mencapai Rp32 triliun.
Meski demikian, nama Haji Isam belum tercantum dalam daftar 50 orang terkaya Indonesia versi Forbes. Posisi ke-50 saat ini ditempati oleh pengusaha tambang Kiki Barki dengan kekayaan US$ 1 miliar.
Lalu, Kenapa Haji Isam Belum Masuk Daftar Forbes?
Sebagai informasi, Forbes secara rutin merilis daftar miliarder dunia berdasarkan perhitungan kekayaan bersih (net worth). Nilai ini diperoleh dari total aset dikurangi total liabilitas.
Aset yang dihitung termasuk kepemilikan saham di perusahaan publik, properti, karya seni, hingga aset lain yang bisa dinilai secara objektif.
Namun, Forbes juga mengakui bahwa mereka tidak selalu memiliki akses penuh terhadap dokumentasi keuangan para miliarder, terutama untuk mereka yang berbisnis secara tertutup atau melalui perusahaan non-publik.
Dalam kasus seperti itu, Forbes memilih untuk tidak memasukkan nama-nama yang datanya tidak bisa diverifikasi.
“Kami menilai berbagai aset, termasuk perusahaan swasta, real estat, seni, dan banyak lagi. Kami tidak berpura-pura mengetahui neraca keuangan setiap miliarder, meskipun beberapa menyediakannya. Jika dokumentasi tidak tersedia, kami mengabaikan kekayaannya,” tulis Forbes dalam laman resminya, dikutip Sabtu (20/9/2025).
Selain itu, Forbes juga mempertimbangkan harga saham dan nilai tukar mata uang, yang sangat fluktuatif dan bisa mempengaruhi posisi seseorang dalam daftar secara signifikan, baik naik maupun turun.
Dengan kata lain, meskipun Haji Isam memiliki harta melimpah, minimnya informasi publik dan keterbukaan data keuangan dari bisnis-bisnis non-publiknya menjadi faktor utama mengapa namanya belum muncul dalam daftar Forbes.
Haji Isam adalah salah satu figur baru yang kekayaannya sedang meroket. Meski belum masuk ke daftar Forbes, bukan berarti hartanya kalah dari para taipan lainnya. Bisa jadi, bila kelak lebih banyak data keuangan perusahaannya tersedia secara publik, nama Haji Isam akan segera menyusul daftar orang terkaya di Indonesia, bahkan dunia. (*)

Iklan Bersponsor Google
Leave a Reply