HISTORIAL.ID – Enrekang – Ribuan warga dari tiga desa, yakni Desa Lebang, Malalin, dan Pinang, mengeluhkan kondisi jembatan penghubung utama yang sudah sangat memprihatinkan. Jembatan yang dibangun sejak tahun 1985 hingga 1988 itu kini rapuh dan membahayakan keselamatan warga yang melintas setiap hari.
Iklan Google AdSense
Salah seorang warga, Rusdi, yang ditemui di lokasi pada Rabu (13/8/2025), menjelaskan bahwa pembangunan jembatan tersebut dulunya merupakan gabungan antara bantuan pemerintah dan swadaya masyarakat.
“Semen, pasir, sama tali besinya itu bantuan dari pemerintah. Tapi untuk papan lantainya, masyarakat yang swadaya, masing-masing rumah menyumbang 10 lembar. Pengerjaannya juga dilakukan secara gotong royong,” ujar Rusdi.
Kini, di usianya yang menginjak 37 tahun, kondisi jembatan semakin mengkhawatirkan. Lantai kayu sudah rapuh dan sangat licin, terutama saat musim hujan. Dinding pembatas banyak yang rusak, dan baut-baut pengikat sebagian besar telah lepas, digantikan dengan kawat kecil seadanya.

Jembatan ini membentang sepanjang 126 meter dengan ketinggian sekitar 15 meter dari dasar sungai. Panjang dan usia jembatan yang sudah tua membuat struktur rentan berguncang saat dilintasi, sehingga risiko kecelakaan sangat tinggi.
“Mobil tidak bisa lewat di sini, terlalu berbahaya. Warga di tiga desa ini sangat kesulitan, apalagi kalau ada yang sakit atau darurat lainnya,” ungkap Rusdi.
Qilal Tri Anwar (13), seorang pelajar yang setiap hari melintasi jembatan tersebut, mengaku sering merasa takut saat menyeberang.
“Biasanya takut, Pak, apalagi kalau lagi hujan karena licin sekali,” ujarnya.
Penjabat (PJ) Kepala Desa Lebang, Zulkipli, mengatakan bahwa sejak pertama kali dibangun, jembatan ini belum pernah mendapatkan perbaikan dari pemerintah.
“Belum pernah diperbaiki sama sekali. Bahkan, pondasi dasar jembatan sudah retak parah,” jelasnya.
Zulkipli menambahkan, jembatan ini menjadi jalur vital bagi sekitar 4.000 jiwa. Mayoritas warga yang berprofesi sebagai petani sangat terdampak dengan kondisi ini, karena kesulitan mengangkut hasil panen seperti padi dan jagung – dua komoditas utama di kawasan ini yang menjadi lumbung pangan Kabupaten Enrekang.
Warga berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat untuk segera membangun jembatan baru atau merenovasi total jembatan lama demi keselamatan dan kelancaran aktivitas warga. (Mawan)

Iklan Bersponsor Google
Leave a Reply