HISTORIAL – Gowa — Langit pagi di Kalaserena tampak lebih teduh hari ini. Embun menyapa tanah kampung dengan lembut, seolah turut merayakan momen penting bagi seorang putra terbaik Sulawesi Selatan, Komjen Pol. Muhammad Fadil Imran, yang tepat hari ini, Kamis (14/8/2025), genap berusia 57 tahun.
Iklan Google AdSense
Di usia yang semakin matang, Fadil bukan hanya berdiri sebagai seorang perwira tinggi Polri dengan tiga bintang di pundaknya, tapi juga sebagai simbol keteladanan, dedikasi, dan cinta tanpa batas terhadap tanah kelahirannya.
Lahir di tanah adat Kaluarrang, Bontonompo, tempat sejarah dan kearifan lokal mengalir dalam darah setiap anak negerinya, Fadil tumbuh dalam dekapan cinta Sang Ibu, doa-doa di penghujung malam, dan nilai-nilai luhur yang terajut sejak kecil.


“Rumah itu bernama Keabadian…” Demikian tulis Yusrizal Kamaruddin (Bang Yos), seorang sahabat dan penulis kampung Sulsel, dalam sajak yang ia persembahkan di hari ulang tahun Jenderal Fadil.
Sebuah puisi yang menggambarkan bahwa rumah masa kecil Jenderal bukan hanya bangunan, tapi tempat berkecambahnya nilai, cinta, dan kejujuran, bahan utama pembentuk jati diri pemimpin masa depan.
Meski kini duduk sebagai Asisten Operasi Kapolri sejak 5 Agustus 2025 dan pernah memimpin sebagai Kabaharkam Polri, Fadil tak pernah melupakan lorong-lorong sempit tempatnya bermain bola di masa kecil. Bahkan dalam kesibukannya, ia masih menyempatkan pulang, tidak selalu secara fisik, tapi dalam doa, dalam kenangan, dalam karya.
Fadil dikenal luas sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat, tegas namun santun, dan selalu memberi ruang untuk nilai-nilai budaya dalam setiap keputusan strategisnya.
Ia bahkan dipercaya menakhodai PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) periode 2024–2028, sebuah posisi prestisius di dunia olahraga tanah air.
Darah Raja, Hati Rakyat!
Sebagai keturunan langsung dari Raja Gowa ke-IX, Karaeng Manguntungi Tumapa’risi’ Kallonna, Fadil membawa darah kebangsawanan yang tidak ia agungkan untuk kemuliaan pribadi. Justru, ia menjadikan sejarah itu sebagai bahan bakar semangat pengabdian.
Ia tak pernah bersuara lantang soal garis keturunannya. Ia lebih memilih menjawab dengan kerja, dedikasi, dan pelayanan. Sebab, bagi Fadil, yang utama adalah menjadi “pendar cahaya untuk semesta,” sebagaimana pesan ibunda yang selalu ia kenang.
Selamat Ulang Tahun, Sang Jenderal
Hari ini, seluruh doa terbaik mengalir untukmu, Jenderal. Dari kampung kecil di Sulsel hingga ruang rapat strategis di Mabes Polri. Dari wajah-wajah anak bangsa yang kau lindungi hingga cucu-cucu yang ingin mendengar dongeng keberanianmu.
Semoga Allah Subhana Wa Ta’ala limpahkan keberkahan, keselamatan, dan kemuliaan dunia akhirat untukmu dan seluruh keluarga besarmu.
Karena engkau bukan hanya milik institusi. Engkau adalah anak bangsa. Engkau adalah cerita tentang bagaimana cinta, doa, dan kerja keras bisa mengantarkan seseorang dari lorong kampung ke panggung negeri.
“Selamat Ulang Tahun ke-57, Komjen Muhammad Fadil Imran.”

Iklan Bersponsor Google
Leave a Reply