Iklan Google AdSense

UNRWA: Satu Juta Anak di Gaza Terancam Kelaparan, Distribusi Bantuan Terhenti Akibat Blokade

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengeluarkan peringatan mendesak kepada komunitas internasional terkait krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengeluarkan peringatan mendesak kepada komunitas internasional terkait krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza. Foto (Ist)

HISTORIAL.ID – Gaza — Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengeluarkan peringatan mendesak kepada komunitas internasional terkait krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza. Dalam pernyataan terbarunya, UNRWA menyebutkan bahwa lebih dari dua juta warga Gaza, termasuk sekitar satu juta anak-anak, kini berada di ambang kelaparan akibat blokade total yang terus diberlakukan oleh pemerintah Israel.

Iklan Google AdSense

Meski secara teknis masih terdapat stok pangan untuk mencukupi kebutuhan Gaza selama tiga bulan, UNRWA menyatakan pihaknya tidak dapat menyalurkan bantuan karena seluruh jalur distribusi tertutup akibat pembatasan militer.

“Ini bukan soal ketersediaan bantuan, tetapi soal akses yang sepenuhnya diblokir. Kami tidak dapat menjangkau orang-orang yang sangat membutuhkan,” ungkap juru bicara UNRWA, seperti dikutip dari Ilkha News Agency (19/7/2025).

Peringatan ini disampaikan di tengah laporan mengkhawatirkan mengenai meningkatnya angka malnutrisi berat di kalangan anak-anak.

Data terbaru yang dirilis OCHA (Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB) mencatat lonjakan signifikan angka kekurangan gizi dari 5,5% pada Maret menjadi lebih dari 10% pada Juni 2025, khususnya di kalangan balita.

Krisis ini mencapai puncak tragis pada Sabtu (19/7/2025), ketika seorang bayi Palestina bernama Yahya al-Najjar, yang baru berusia tiga bulan, dilaporkan meninggal dunia akibat malnutrisi berat di Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa sedikitnya 86 warga Gaza telah meninggal akibat kelaparan sejak Oktober 2023, termasuk 76 anak-anak.

Meski bukti-bukti kian banyak, badan-badan PBB hingga kini belum secara resmi menyatakan Gaza mengalami kelaparan (famine). Namun, sejumlah organisasi kemanusiaan seperti Amnesty International dan Al Mezan Center for Human Rights menuding Israel melakukan “penggunaan kelaparan sebagai senjata perang secara sistematis”.

Mereka juga mengkritik keras respons lamban dari komunitas internasional yang dinilai gagal merespons kondisi darurat tersebut secara proporsional.

“Warga sipil Gaza dihadapkan pada pilihan yang tidak manusiawi: kelaparan di rumah, atau risiko ditembak ketika mencoba mengakses bantuan makanan,” tulis Amnesty dalam laporan khususnya (19/7/2025).

Situasi di lapangan terus memburuk dengan cepat, dan lembaga-lembaga kemanusiaan memperingatkan bahwa jika tidak ada tindakan segera, krisis kelaparan di Gaza akan berubah menjadi bencana kemanusiaan berskala penuh.

Sumber: pdate Nusantara

Iklan Bersponsor Google

Leave a Reply