Iklan Google AdSense

Lula Kecam Trump: “BRICS Bukan Koloni, Kami Juga Bisa Kenakan Tarif!”

Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva melontarkan kritik keras terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang baru-baru ini mengancam akan memberlakukan tarif impor sebesar 10 persen terhadap negara-negara anggota BRICS.

Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva melontarkan kritik keras terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang baru-baru ini mengancam akan memberlakukan tarif impor sebesar 10 persen terhadap negara-negara anggota BRICS. Foto (Update Nusantara)

HISTORIAL.ID – Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva melontarkan kritik keras terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang baru-baru ini mengancam akan memberlakukan tarif impor sebesar 10 persen terhadap negara-negara anggota BRICS.

Iklan Google AdSense

Dalam pernyataannya pada KTT BRICS di Rio de Janeiro, Brasil, Senin (7/7/2025), Lula menyebut ancaman tersebut tidak bertanggung jawab dan mencerminkan gaya kepemimpinan sepihak.

“Ini tidak bertanggung jawab atau serius, jika dia mengancam dunia melalui internet,” ujar Lula dalam konferensi pers.

“Kami adalah negara-negara berdaulat. Jika dia pikir bisa seenaknya mengenakan tarif, maka kami juga bisa melakukan hal yang sama.”

Pernyataan tersebut merupakan respons langsung terhadap pengumuman Presiden Trump sehari sebelumnya, yang menyatakan rencananya untuk mengenakan tarif tambahan terhadap produk-produk dari negara BRICS.

Trump menyebut kelompok tersebut semakin “anti-Amerika” dan menganggap BRICS berupaya melemahkan dominasi dolar AS di sistem keuangan global.

Lula menegaskan bahwa dunia tidak bisa dipimpin oleh satu negara saja, apalagi melalui kebijakan koersif yang diumumkan lewat media sosial. Ia menolak pandangan bahwa negara-negara Global South harus tunduk terhadap tekanan ekonomi dari kekuatan besar.

Kecaman serupa juga datang dari pemimpin BRICS lainnya. Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyebut kebijakan tarif sepihak sebagai bentuk proteksionisme yang merusak perdagangan global.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menegaskan bahwa kerja sama multilateral harus didasarkan pada prinsip saling menghormati dan menguntungkan.

KTT BRICS 2025 pun berubah menjadi panggung konsolidasi kekuatan negara-negara berkembang dalam menghadapi tekanan ekonomi dari Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump.

Mereka menegaskan komitmennya untuk menciptakan tatanan global yang lebih seimbang dan multipolar.

Sumber: Update Nusantara

Iklan Bersponsor Google

Leave a Reply