Iklan Google AdSense

Manifesto Moral tentang Kepemimpinan, Ketimpangan, dan Keberanian Memihak

Manifesto Moral tentang Kepemimpinan, Ketimpangan, dan Keberanian Memihak

Bupati Gowa, Husniah Talenrang. "Manifesto Moral tentang Kepemimpinan, Ketimpangan, dan Keberanian Memihak". Foto (Ist)

“Membaca Desil dari Dekat”

Manifesto Moral tentang Kepemimpinan, Ketimpangan, dan Keberanian Memihak

Oleh: Manurung Rante Batara

Saya orang Toraja. Dan karena itu, saya tidak diajarkan untuk diam ketika melihat ketimpangan dibungkus kemapanan.

Iklan Google AdSense

Dalam budaya kami, hidup bersama adalah soal malu dan tanggung jawab. Malu jika kenyang sendiri. Malu jika kuat tapi membiarkan yang lemah runtuh.

Karena itu, ketika melihat Gowa dari dekat, saya merasa perlu bersaksi, bukan sebagai pengamat, tetapi sebagai warga yang menilai kekuasaan secara moral.

Selama ini, Gowa hidup dalam narasi yang terlalu rapi. Ia ditampilkan sebagai daerah mapan, sejahtera, tertib, dan selesai dengan urusan kemiskinan.

Pemimpinnya hadir dengan performa elitis: visual yang bersih, gestur yang terkendali, pidato yang menenangkan. Statistik dirapikan. Pertumbuhan dipamerkan. Stabilitas dirayakan.

Tetapi sejarah sosial selalu mengajarkan satu hal: narasi kemapanan hampir selalu menyembunyikan korban.

Di balik citra itu, ada warga yang hidup di bawah bayang-bayang kesejahteraan orang lain. Ada kelompok yang tidak pernah naik panggung keberhasilan. Ada desil-desil bawah yang hanya hadir sebagai angka, bukan sebagai manusia.

Ketimpangan ditutup dengan bahasa teknokratis. Kemiskinan dipersempit menjadi soal data, bukan soal keadilan.

Dan di tengah sistem seperti itulah, kepemimpinan Bupati Talenrang berdiri, tidak untuk memperhalus narasi lama, tetapi untuk membongkarnya dari dalam.

Membaca Desil adalah Tindakan Politik!

Saya ingin menegaskan ini dengan keras: membaca desil bukan pekerjaan teknis. Ia adalah tindakan politik yang mengganggu status quo.

Ketika seorang pemimpin memilih membaca masyarakat dalam lapisan-lapisan kesejahteraan, ia sedang mengatakan sesuatu yang tidak disukai elite: bahwa pembangunan selama ini timpang, bahwa kemapanan sebagian dibangun di atas kerentanan sebagian yang lain, dan bahwa ketidakadilan bukan kecelakaan, melainkan hasil dari pilihan-pilihan kebijakan.

Talenrang tidak berhenti pada pengakuan itu. Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya secara politik: mengajak kelompok mapan ikut bertanggung jawab atas ketimpangan.

Ini bukan bahasa populis murahan. Ini bukan juga kebijakan kosmetik. Ini adalah peneguran moral terhadap sistem yang terlalu lama membiarkan elite menikmati hasil tanpa memikul beban.

Menyasar Elit, Bukan Mengelusnya!

Selama ini, kelompok mapan hidup nyaman dalam mitologi pembangunan.

Pertumbuhan dianggap hasil kerja keras individual. Kekayaan dibingkai sebagai prestasi personal. Ketimpangan diposisikan sebagai residu alamiah yang tak perlu diganggu.

Talenrang merusak mitologi itu. Ia mengatakan, dengan kebijakan, bukan slogan, bahwa kesejahteraan bukan hanya soal hak, tetapi tanggung jawab sosial.

Bahwa kelompok menengah dan atas tidak bisa terus bersembunyi di balik narasi meritokrasi, sementara struktur sosial membuat sebagian warga tak pernah punya garis start yang sama.

Sebagai orang Toraja, saya memahami ini sebagai etika hidup bersama. Di Gowa, etika itu mulai diterjemahkan ke dalam politik.

Elite tidak dimusuhi, tetapi dipaksa bercermin. Bahwa solidaritas bukan pilihan opsional. Bahwa redistribusi bukan ancaman. Bahwa keadilan sosial bukan slogan ideologis, melainkan syarat agar masyarakat tidak pecah.

Kepemimpinan Perempuan dan Perlawanan terhadap Politik Pencitraan!

Sebagai pemimpin perempuan, Talenrang tidak mewarisi tradisi kekuasaan lama yang gemar memamerkan stabilitas sambil menyapu masalah ke bawah karpet.

Ia memilih kerja yang tidak fotogenik: perawatan sosial, perlindungan kelompok rentan, dan kebijakan yang tidak selalu populer di mata elite.

Inilah yang membuat kepemimpinannya berbeda, dan karenanya, diserang secara halus. Kerja sunyi sering dianggap lemah.

Keberpihakan sering dicap tidak netral. Padahal justru di situlah letak kekuatan moral kepemimpinan.

Politik yang netral terhadap ketimpangan adalah politik yang berpihak pada yang kuat. Dan Talenrang memilih tidak netral.

Manifesto Ini Tidak Netral!

Tulisan ini adalah manifesto moral. Ia tidak berdiri di tengah. Ia memihak. Ia berpihak pada warga desil bawah yang terlalu lama menjadi korban kebijakan.

Dan ia menantang elite yang terlalu lama menikmati stabilitas tanpa tanggung jawab.

Jika kekuasaan hanya sibuk menjaga citra, maka ia telah gagal secara etis.

Jika pembangunan hanya melayani yang sudah mapan, maka ia adalah kekerasan yang dilembagakan.

Saya melihat dalam kepemimpinan Talenrang satu hal yang langka dalam politik lokal: keberanian untuk memikul risiko moral.

Bagi kami yang pernah tak terbaca dalam statistik, kepemimpinan bukan soal jabatan, tetapi soal keberanian memihak dengan sadar.

Semoga kekuasaan tidak mengeraskan hati Ibu. Semoga tekanan elite tidak membelokkan arah. Dan semoga Gowa tidak kembali nyaman dengan kemapanan palsu.

Karena ketika negara belajar menegur yang terlalu aman dan memeluk yang terlalu lama ditinggalkan, di situlah kepemimpinan berhenti menjadi alat kekuasaan dan mulai menjadi tanggung jawab moral terhadap sejarah.

Iklan Bersponsor Google

Leave a Reply