Iklan Google AdSense

Legislator Golkar Soroti Visualisasi Penanganan Tragedi Rinjani: Basarnas Tak Narsis, Tapi Sudah Bergerak Sejak Hari Pertama

Legislator Golkar Soroti Visualisasi Penanganan Tragedi Rinjani: Basarnas Tak Narsis, Tapi Sudah Bergerak Sejak Hari Pertama

Legislator Golkar Soroti Visualisasi Penanganan Tragedi Rinjani: Basarnas Tak Narsis, Tapi Sudah Bergerak Sejak Hari Pertama. Foto (Update Nusantara)

HISTORIAL.ID – Jakarta – Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Daniel Mutaqien Syafiuddin, mengapresiasi penuh kinerja Basarnas dan tim gabungan dalam penanganan insiden jatuhnya pendaki asal Brasil, Juliana Marins, di Gunung Rinjani. Namun, ia juga menyoroti pentingnya dokumentasi visual untuk menghindari persepsi publik yang keliru di era digital saat ini.

Iklan Google AdSense

Dalam rapat kerja dengan Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP/Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syaugi, Daniel menekankan bahwa peristiwa Rinjani telah menjadi perhatian nasional hingga internasional, termasuk di Amerika Latin. Ia juga menanggapi munculnya narasi dari pihak lain di media yang seolah menyepelekan upaya tim penyelamat resmi.

“Ada pernyataan yang menyebut kalau saja ia hadir sejak hari pertama, korban mungkin bisa diselamatkan. Ini tentu secara tidak langsung menyampingkan peran Basarnas dan tim SAR resmi yang sudah bergerak dari awal,” ujar Daniel.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa medan di kawasan Cemara Tunggal sangat ekstrem dan berbahaya. Penilaian ini berdasarkan pengalamannya sebagai mantan pegiat alam bebas.

“Kalau bicara vertikal 200 hingga 600 meter di jalur itu, ya fatal. Batu, pasir, curam. Bukan soal gampang dijangkau,” jelasnya.

Daniel mengungkapkan, satu-satunya “kekurangan” dari Basarnas adalah kurangnya dokumentasi visual. “Tim Basarnas ini tidak narsis. Tapi sayangnya, di era digital sekarang, publik menuntut visual, video, foto, konten—untuk percaya bahwa upaya penyelamatan benar-benar dilakukan,” tegasnya.

Ia pun mendorong agar Basarnas dibekali peralatan dokumentasi sejak hari pertama operasi, guna mencegah munculnya narasi negatif. “Jangan sampai lembaga resmi negara seperti Basarnas dianggap lamban, padahal mereka sudah bekerja maksimal sejak awal.”

Menutup pernyataannya, Daniel berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga dan tidak memengaruhi penilaian internasional, seperti dari ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional), terhadap kinerja Basarnas.

“Semoga ke depan visualisasi kinerja bukan untuk narsis, tapi sebagai bentuk transparansi dan edukasi publik. Karena kerja keras Basarnas layak diapresiasi, bukan dipertanyakan,” tutupnya.

Iklan Bersponsor Google

Leave a Reply