Iklan Google AdSense

Pemikiran Bung Karno Menarik Perhatian Fidel Castro, Hingga Mengirimkan Che Guevara ke Indonesia

Soekarno bertemu dengan Che Guevara di Havana Kuba. Foto (Ist).

Soekarno bertemu dengan Che Guevara di Havana Kuba. Foto (Ist).

HISTORIAL.ID – Sebagai tokoh besar yang dijuluki Bapak Proklamator, pemikiran Presiden Soekarno (Bung Karno) ternyata menarik perhatian banyak tokoh dunia, termasuk pemimpin Revolusi Kuba, Fidel Castro.

Iklan Google AdSense

Khususnya, gagasan Bung Karno yang anti-imperialisme menarik perhatian Castro dan mendorongnya untuk mengirimkan salah satu tokoh kunci revolusi Kuba, Che Guevara, ke Indonesia.

Pada Juni 1959, Indonesia mendapat kehormatan menerima kunjungan seorang tokoh besar dunia, Che Guevara, yang merupakan utusan langsung dari Fidel Castro untuk menemui Presiden Soekarno.

Guevara yang saat itu dikenal dengan penampilannya yang khas rambut gondrong dan pakaian ala tentara baru saja ikut serta dalam menggulingkan pemerintahan diktator Fulgencio Batista, yang didukung oleh CIA Amerika Serikat.

Setelah revolusi berhasil, Castro mengutus Che untuk melakukan kunjungan ke beberapa negara, termasuk Indonesia, yang merupakan anggota gerakan Non-Blok pada saat itu.

Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno dikenal dengan sikapnya yang sangat anti-imperialisme dan anti-Barat, yang sejalan dengan pandangan politik Castro dan Kuba.

Ketertarikan Castro terhadap Bung Karno dimulai saat ia membaca buku “Indonesia Menggugat”, yang dipublikasikan pada tahun 1931, di mana Soekarno mengungkapkan pandangan politiknya terhadap penjajahan Belanda.

Castro mengagumi semangat nasionalisme dan anti-imperialisme yang ditampilkan dalam buku tersebut.

Menurutnya, Soekarno adalah seorang pemimpin yang menginginkan dunia bebas dari penjajahan, suatu gagasan yang sejalan dengan prinsip revolusi Kuba.

Sebagai tindak lanjut dari kekagumannya, Castro mengutus Che Guevara untuk mengunjungi Soekarno di Jakarta.

Pertemuan yang berlangsung di Istana Merdeka ini menjadi momen bersejarah, di mana keduanya berdiskusi tentang perjuangan kemerdekaan dan perlawanan terhadap imperialisme.

Dalam percakapan tersebut, Bung Karno memaparkan konsep Marhaenisme kepada Che Guevara. Ia menjelaskan bahwa sebuah perubahan sejarah haruslah revolusioner, meruntuhkan tatanan lama yang tidak adil, dan membangun masyarakat yang lebih manusiawi.

“Bagi saya, Che, sebuah perubahan sejarah tidak boleh setengah-setengah. Ia harus menjebol, memporak-porandakan, dan dari situasi porak-poranda itu kita membangun yang baru, masyarakat yang terhormat dan memanusiakan manusia,” kata Bung Karno pada Guevara.

Sebagai negara yang menentang dominasi Amerika Serikat, pemikiran Bung Karno sangat resonan dengan ideologi Fidel Castro.

Kedua pemimpin ini memiliki visi yang sama dalam menentang hegemoni kekuatan besar, terutama Amerika Serikat, dan mendukung negara-negara yang baru merdeka untuk berdiri di atas kaki mereka sendiri tanpa terpengaruh kekuatan asing.

Pada Oktober 1960, sebagai bagian dari hubungan yang semakin erat antara Kuba dan Indonesia, Che Guevara mengundang Bung Karno untuk berkunjung ke Kuba.

Sebagai penutupan kunjungan resmi di Indonesia, Che juga sempat mengunjungi Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, sebuah simbol kebudayaan dan sejarah Indonesia yang kaya.

Kunjungan ini menjadi salah satu momen penting dalam sejarah hubungan internasional Indonesia dan Kuba, di mana kedua negara saling berbagi semangat perjuangan untuk kemerdekaan dan keadilan sosial.

Iklan Bersponsor Google

Leave a Reply