HISTORIAL.ID – Pemerintah Indonesia didesak untuk menuntaskan kasus dugaan penembakan terhadap lima pekerja migran Indonesia (PMI) oleh aparat Malaysia di perairan Selangor.
Iklan Google AdSense
LSM Migrant Care mengungkapkan bahwa terdapat puluhan kasus kematian pekerja migran Indonesia yang diduga akibat tindakan aparat Malaysia yang belum mendapat penyelesaian yang jelas.
Selama 20 tahun terakhir, Migrant Care mencatat setidaknya 75 PMI yang tewas, yang diyakini menjadi korban pembunuhan di luar proses peradilan (extrajudicial killing) oleh aparat Malaysia. Direktur Migrant Care, Wahyu Susilo, menyatakan bahwa kejadian serupa terus berulang tanpa penyelesaian yang memadai.
“Jika kita melihat pola kejadian ini, hampir setiap tahun ada insiden serupa dan penyelesaiannya tidak pernah tuntas,” ujar Wahyu kepada wartawan, dilansir dari BBC News Indonesia, Kamis (30/01).

Wahyu pun menuntut agar pemerintah Indonesia bersikap tegas dan serius untuk menyelesaikan kasus penembakan lima WNI tersebut.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, menyatakan penyesalannya atas jatuhnya korban jiwa WNI dan menyampaikan duka cita.
“Kami mendorong investigasi menyeluruh terkait insiden penembakan yang dilakukan oleh APMM, termasuk kemungkinan adanya penggunaan kekuatan berlebihan,” kata Retno.
Pemerintah Indonesia juga telah mengirimkan nota diplomatik kepada Malaysia untuk mendesak penyelidikan lebih lanjut atas kasus ini.
Keterangan Malaysia dan Versi WNI yang Terlibat
Keterangan dari pihak Polis Diraja Malaysia (PDRM) menyebutkan bahwa para pekerja migran tersebut berusaha keluar dari Malaysia melalui jalur ilegal. Media-media Malaysia juga melaporkan bahwa para pekerja migran sempat menabrakkan kapal mereka ke kapal APMM hingga empat kali dan mencoba menyerang dengan parang.
Namun, versi dari dua WNI yang terlibat, HA dan MZ, berbeda. Keduanya mengaku tidak melawan dengan senjata tajam terhadap aparat APMM.
“HA dan MZ menyatakan bahwa tidak ada perlawanan dengan senjata tajam dari pihak WNI terhadap aparat,” ujar Judha Nugraha, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemenlu Indonesia, dalam keterangan tertulis, Rabu (29/01).
Kedua WNI tersebut, yang berasal dari Provinsi Riau, kini tengah dirawat di Rumah Sakit Serdang dan Rumah Sakit Klang, Malaysia, dalam kondisi stabil.
Sementara dua korban lainnya masih dalam kondisi kritis pasca operasi dan belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut.
Langkah yang Diambil oleh Kemenlu Indonesia
Kementerian Luar Negeri Indonesia terus mendorong otoritas Malaysia untuk melakukan investigasi menyeluruh atas insiden ini, termasuk menyelidiki kemungkinan penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh aparat APMM.
“Kami berharap penyelidikan ini dapat mengungkap kejadian sebenarnya dan memberi keadilan bagi para korban,” kata Judha.

Iklan Bersponsor Google
Leave a Reply