Iklan Google AdSense

22 Tewas dan Ratusan Luka-luka, Israel Semakin Brutal Tembaki Demonstran

Seorang pria menggendong korban luka di Burj al-Muluk, dekat desa Kfar Kila di Lebanon Selatan, tempat pasukan Israel masih berada di darat setelah batas waktu penarikan pasukan mereka berakhir karena penduduk berusaha kembali ke rumah mereka di daerah perbatasan, Lebanon. © Reuters

Seorang pria menggendong korban luka di Burj al-Muluk, dekat desa Kfar Kila di Lebanon Selatan, tempat pasukan Israel masih berada di darat setelah batas waktu penarikan pasukan mereka berakhir karena penduduk berusaha kembali ke rumah mereka di daerah perbatasan, Lebanon. © Reuters

HISTORIAL.ID – Aksi kekerasan terjadi di Lebanon selatan pada Minggu (26/1/2025), ketika pasukan Israel menembaki para pengunjuk rasa yang menuntut penarikan pasukan Israel sesuai dengan perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati.

Iklan Google AdSense

Insiden tersebut menewaskan sedikitnya 22 orang, termasuk enam wanita dan seorang tentara Lebanon, serta melukai 124 orang lainnya, menurut laporan resmi dari Kementerian Kesehatan Lebanon.

Protes berlangsung di sekitar 20 desa di wilayah perbatasan Lebanon-Israel.

Tentara Israel menyalahkan kelompok Hizbullah sebagai pemicu ketegangan dan mengklaim bahwa mereka telah melepaskan tembakan peringatan untuk menghadapi ancaman yang dianggap mereka serius.

Beberapa yang terlibat dalam protes tersebut dilaporkan telah ditangkap dan diinterogasi oleh pihak berwenang.

Beberapa jam setelah serangan tersebut, Gedung Putih mengumumkan adanya kesepakatan antara Israel dan Lebanon untuk memperpanjang tenggat waktu penarikan pasukan Israel hingga 18 Februari mendatang.

Keputusan ini muncul setelah Israel meminta waktu tambahan, dengan alasan bahwa tentara Lebanon belum sepenuhnya menguasai wilayah tersebut untuk mencegah kembalinya pengaruh Hizbullah.

Perdana Menteri sementara Lebanon, Najib Mikati, mengonfirmasi perpanjangan waktu tersebut dan menekankan pentingnya pengaturan yang diawasi oleh Amerika Serikat untuk memastikan implementasi yang efektif.

Sementara itu, Presiden Lebanon, Michel Aoun, menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kedaulatan negara dan mengimbau masyarakat untuk mempercayakan keamanan negara kepada militer Lebanon.

Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, menyerukan agar masyarakat internasional segera bertindak untuk memaksa Israel mundur dari wilayah yang masih diduduki.

PBB, melalui pernyataan bersama Koordinator Khusus Jeanine Hennis-Plasschaert dan Letjen Aroldo Lázaro dari UNIFIL, mendesak kedua belah pihak untuk mematuhi kewajiban gencatan senjata dan menghindari eskalasi lebih lanjut.

Iklan Bersponsor Google

Leave a Reply