Iklan Google AdSense

Husniah Talenrang: “Saya Bukan Siapa-Siapa Tanpa Loyalis Saya”

Silaturahmi di Pantai Bosowa kembali menegaskan kokohnya dukungan terhadap Bupati Gowa, Husniah Talenrang. Foto (Ist)

Silaturahmi di Pantai Bosowa kembali menegaskan kokohnya dukungan terhadap Bupati Gowa, Husniah Talenrang. Foto (Ist)

HISTORIAL.ID – GOWA – Silaturahmi di Pantai Bosowa, Kota Makassar, Sabtu (29/11), kembali menegaskan kokohnya dukungan terhadap Bupati Gowa, Husniah Talenrang, meski kontestasi politik telah lama berlalu.

Iklan Google AdSense

Ratusan loyalis dan relawan militan hadir menyambut pemimpin perempuan pertama dalam sejarah Kabupaten Gowa tersebut.

Meski padatnya agenda pemerintahan, Husniah Talenrang tetap meluangkan waktu untuk hadir langsung di hadapan para relawan yang pernah mengawalnya di Pileg 2018 dan Pilkada 2024.

Kehadirannya menjadi simbol kedekatan emosional sekaligus penghargaan terhadap perjuangan akar rumput yang mengantarnya ke kursi bupati.

Puluhan komunitas dari berbagai bendera perjuangan menyambutnya dengan hangat.

Ketua Tim Kita Gowa, Deng Ajang Malik, mengungkapkan kebanggaannya atas kesediaan Bupati Husniah menghadiri pertemuan keluarga besar loyalisnya itu.

“Teman-teman dari berbagai bendera, hari ini kita berkumpul setelah satu tahun berlalu sejak kita berjuang bersama. Bendera-bendera itu tetap akan kita pegang hingga langkah berikutnya,” ujar Ajang Malik.

Ia turut menyebut deretan komunitas yang selama ini konsisten mendukung, mulai dari Asamaturu, Kita Petarung, Juara, Pas, Matahari Muda, Rewata, Hamba Allah, Lurus Jaya, Kapal Udara, Srikandi, Arjuna, hingga berbagai komunitas lainnya.

Ajang Malik menyampaikan pesan penuh makna melalui analogi sebuah pohon besar.

“Akar-akar kebersamaan harus kita rawat. Semakin besar pohon, semakin kuat ia menghadapi angin. Tapi tanpa akar yang sehat, pohon mudah roboh,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya persahabatan yang tulus. “Ketika pangkat dan jabatan hilang, yang tersisa hanyalah teman. Maka perbanyaklah teman karena karakter, bukan karena jabatan,” terangnya.

Sementara dalam kesempatan itu, Bupati Husniah mengungkapkan rasa haru dapat kembali bersua dengan para pendukung setianya.

“Saya bukan siapa-siapa tanpa kehadiran dan dukungan kita semua. Dulu, saya hanyalah penjual beras bermodalkan karakter,” ujarnya.

Ia menceritakan perjalanan hidupnya, termasuk nasihat sang ibunya yang menjadi arah perjuangan politiknya.

“Ibu saya selalu berkata, kalau ingin bermanfaat bagi banyak orang, jangan hanya menjadi pengusaha, tapi jadilah pemimpin yang memikirkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Ketua DPW PAN Sulsel ini.

Husniah juga menegaskan komitmennya terhadap pendidikan. “Saya telah menempuh pendidikan S3. Ilmu harus dikontribusikan agar kelak dikenang sepanjang masa,” tambahnya.

Sebagai bupati perempuan pertama di Gowa, ia berharap kehadirannya menjadi pintu bagi lahirnya lebih banyak pemimpin perempuan.

“Saya mungkin perempuan pertama memimpin Kabupaten Gowa, tapi saya yakin tidak akan menjadi yang terakhir. Akan lahir Husniah-Husniah Talenrang berikutnya,” tuturnya.

Husniah mengakui perjalanan politiknya tidak selalu mudah. Ia mengingat masa-masa ketika masih kaku berbicara di depan umum sebelum akhirnya terpilih sebagai anggota DPRD Gowa pada 2019.

“Semakin besar pohon, semakin besar angin menerpa. Tapi saya yakin akar saya juga semakin kuat,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena belum sering hadir di tengah-tengah loyalisnya, akibat padatnya tugas eksekutif.

“Menjadi Bupati berarti memikirkan seluruh masyarakat Gowa. Banyak yang bertanya kapan bisa ngopi bareng. Hari ini saya ingin memastikan, siapa pun bisa bertemu saya. Ini inisiatif dari hati paling dalam saya, sebelum satu tahun saya memimpin, saya ingin bertemu saudara-saudaraku,” pungkasnya.

Iklan Bersponsor Google

Leave a Reply