Iklan Google AdSense

Penyebab Kematian Raja Bone, La Tenritatta Arung Palakka di Butta Bersejarah Gowa

Arung Palakka diangkat Raja ke XV di Bone dan memiliki pengaruh besar di Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Foto (Int)

Arung Palakka diangkat Raja ke XV di Bone dan memiliki pengaruh besar di Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Foto (Int)

HISTORIAL.ID – Hasil penelitian menunjukkan bahwa La Tenritatta Arung Palakka adalah tokoh yang terlibat dalam Perang Makassar pada tahun 1666, bersekutu dengan Belanda melawan Sultan Hasanuddin.

Iklan Google AdSense

Setelah perang tersebut berakhir, Arung Palakka diangkat menjadi Raja ke-15 di Bone dan memainkan peran penting dalam mempengaruhi politik di Sulawesi Selatan pada abad ke-17.

Namun, pada akhir abad ke-17, kondisi kesehatan Arung Palakka mulai menurun, sehingga ia tidak dapat lagi menjalankan aktivitas seperti biasanya.

Dalam situasi ini, Arung Palakka memberikan kepercayaan kepada keponakannya, La Patau, untuk menggantikannya sementara waktu.

La Patau berhasil mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi Arung Palakka selama sakit dan menjalankan tugas dengan baik.

Meski telah mendapatkan perawatan medis, kesehatan Arung Palakka terus memburuk. Pada akhirnya, pada tanggal 6 April 1696, Arung Palakka meninggal dunia.

Ia dimakamkan berdampingan dengan Karaeng Pattingaloang di daerah Bontobiraeng, yang terletak di wilayah Kerajaan Gowa.

La Tenritatta Arung Palakka dimakamkan di Bontobiraeng sesuai dengan wasiat yang ditinggalkannya sebelum meninggal dunia.

Pemakaman ini juga mencerminkan hubungan kekeluargaan yang erat antara Arung Palakka dan Sultan Hasanuddin, mengingat istri kedua Arung Palakka, Imengkawani Daeng Talele, adalah adik dari Sultan Hasanuddin.

Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pada masa itu, perselisihan antara Gowa dan Bone sudah tidak ada lagi, serta hubungan antar keduanya terjalin dalam kedamaian.

Diketahui, hasil penelitian ini merupakan penelitian sejarah yang bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahapan, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.

Tahapan-tahapan ini merupakan langkah-langkah penting dalam penulisan sejarah untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif dan objektif.

Iklan Bersponsor Google

Leave a Reply