HISTORIAL.ID – Selayar – Kisah gugurnya Raja Tanete, Maddukelleng Dg Silasa yang diberi gelar Bulaenna Parangia Parammatana Munteya dimulai dari sebuah pertemuan penting yang diadakan oleh sang raja.
Iklan Google AdSense
Pada suatu waktu, Bulaenna Parangia memanggil seluruh keluarga, baik yang dekat maupun jauh, termasuk mereka yang berada di seberang laut. Keluarga bangsawan maupun bukan bangsawan, sepupu, dan ipar semuanya diundang untuk berkumpul di Istana Balla Lompoa.
Tak lama kemudian, seluruh keluarga pun hadir dan duduk bersila dengan rapi di hadapan Bulaenna Parangia Parammatana Munteya. Di antara yang hadir, terdapat sepupunya yang bernama Opu Etang /Pitang, yang juga duduk rapi di hadapan beliau.
Saat musyawarah berlangsung, Bulaenna Parangia menyampaikan sebuah kabar penting yang harus diketahui oleh semua yang hadir.

“Wahai rakyatku yang hadir, dan seluruh keluarga yang ada di hadapanku. Saya kabarkan bahwa dalam waktu dekat, daerah kita akan terkena musibah. Musuh akan datang menyerang. Oleh karena itu, saya mengumpulkan kalian semua, semua tubarani, pemberani yang pantang menyerah.”
Kalian yang berani bertarung di medan laga, yang tak gentar menghadapi senjata tajam, tombak, dan berani dalam tebas menebas, tikam menikam. Kalian yang tak pernah takut di medan pertempuran, saling beradu kekuatan dari utara ke selatan, barat ke timur, berlaga seperti kuda, dan seperti kerbau saling menanduk di lapangan yang luas.
Setelah menyampaikan pesan tersebut, Bulaenna Parangia, seorang lelaki yang pantang mundur dan panutan bagi masyarakatnya, terdiam sejenak.
Kemudian, sepupunya, Opu Etang (Pitang), mengajukan sebuah usul.
“Wahai Karaeng, alangkah baiknya jika kita memanggil seluruh pendekar (tubarani) untuk dikumpulkan, para tubarani yang pantang mundur di medan laga,” usul Opu Etang (Pitang).
Bulaenna Parangia menanggapi usul tersebut dengan tegas. Sikap kesatria beliau diuji pada saat itu. Pada waktu yang bersamaan, datanglah kesempatan untuk menghindari perang yang akan berkecamuk.
Sebuah pasukan besar yang diprediksi akan mengalahkan pasukannya yang lebih kecil, tidak membuatnya berniat untuk lari. Padahal, jika Bulaenna Parangia memilih untuk memenuhi undangan dari Ujung Pandang, rakyatnya pun akan memaklumi dan bahkan banyak yang mengharapkannya.
Rakyat Tanete yang mencintai rajanya berharap agar ia pergi menghindari perang untuk terhindar dari takdir kematian.
Namun, Bulaenna Parangia tetap memilih untuk tinggal dan berjuang.
“Opu, pergilah menggantikan saya berlayar ke Ujung Pandang atas undangan dari Tuan Kalompoang. Sebab saya seperti melihat pada tengah malam terdengar bunyi genderang perang di dataran ini dan akan terjadi malapetaka.”
“Opu Etang (Pitang), mintakan senjata sebanyak-banyaknya dan baju besi empat puluh. Perlengkapan ini akan dipakai untuk menghadapi musuh yang akan datang menyerang. Kita akan melihat siapa yang jantan dan siapa yang penakut. Sampaikan permintaan maafku karena tidak dapat hadir. Ini tidak biasa, saya sangat malu terhadap sesama raja,” katanya.
Setelah menerima perintah, Opu Etang (Pitang) pun berlayar ke Makassar bersama Opu Sampuloia Se’re (Pejabat Kerajaan). Meskipun hatinya ragu, karena ia juga merasa pasukan Raja Serang Ratuna Pua-pua akan segera datang, ia tetap berangkat.
Tak lama setelah kepergian Opu Etang (Pitang), datanglah Suro, abdi kerajaan yang patuh kepada perintah raja, memasuki pekarangan Balla Lompoa. Dengan langkah penuh hormat, Suro mendekat dan melaporkan kepada Bulaenna Parangia.
Nilai Keberanian
Salah satu nilai yang terkandung dalam naskah Sinrilik Bulaenna Parangia adalah semangat juang yang pantang mundur, sebagaimana yang disampaikan oleh Raja Tanete kepada Opu Bira Daeng Mattalli dan I Bo’da Daeng Siboja:
“Sebaiknya Baginda kembali pulang ke istana, dan kembali ke kampung halaman. Pasukan yang akan kau hadapi adalah musuh yang banyak, kuat, dan sangat kejam di bawah perintah para kaptennya,” kata Opu Bira Daeng Mattalli.
Mendengar hal itu, Bulaenna Parangia berpaling dan berkata, “Rupanya kau tidak tahu diri, sudah disayang, dan dikasihani, kau malah memudarkan semangatku. Orang yang tidak punya malu, tidak punya rasa persaudaraan. Aku malu kembali, pantang mundur. Bila aku kembali, aku akan turun martabatku, hina diriku. Malu saya akan ditombak seperti babi, diusir laksana kerbau, dikejar bagaikan kuda.”
“Aku adalah lelakinya lelaki, jantannya jantan. Tidak ada seorang pun yang kutakuti, tak seorang pun pendekar kusegani, tak juga orang kebal kuhindari, dan tak ada pasukan yang tak kuhadapi,” tegas Maddukelleng Dg Silasa.
Mendengar ucapan tersebut, Opu Bira Daeng Mattalli pun pergi bersama pasukannya, sementara Bulaenna Parangia bersiap untuk pertempuran yang semakin dekat, meskipun ia tahu bahwa saat-saat terakhirnya sudah semakin dekat.
Akhir Perjuangan Bulaenna Parangia
Raja Tanete, Maddukelleng Dg Silasa (Bulaenna Parangia), bersama kedua pendekarnya, I Mappa Daeng Siratang yang menggunakan keris Lamba Tallua, dan I Masere Daeng Situju dengan keris Sipukalaya, berhasil menaklukkan ribuan pasukan Serang. Namun, pada penghujung pertempuran, ketiganya gugur karena kelelahan (mate poso).
Kabar yang disebarkan oleh Opu Bira Daeng Mattalli bahwa Bulaenna Parangia sudah tewas di tangan pasukan Serang ternyata tidak benar. Akibatnya, ratusan pasukan yang seharusnya datang membantu tidak kunjung tiba.
Meskipun demikian, mereka bertiga mengorbankan jiwa dan raganya demi membela martabat dan kehormatan bangsa serta tanah air mereka.
Dengan demikian, lahirlah Sinrilik Bulaenna Parangia. Sinrilik ini tidak hanya menjadi catatan sejarah yang menggambarkan kepahlawanan seorang raja, tetapi juga menjadi warisan yang mengajarkan kita tentang keberanian, pengorbanan, dan patriotisme yang abadi.
Manuskrip Sinrilik Bulaenna Parangia
Sinrilik Bulaenna Parangia menceritakan keberanian dan kepahlawanan Maddukelleng Dg Silasa, yang mendapat gelar Bulaenna Parangia, Intanna Tonjo, Cindena Rakra, Parammatana Munteya, Jamarrukna Kassabumbung, Manikanna Butta Barro Pattolana Tanatoa. Dilansir dari Buku H Siradjuddin Bantang, Selasa (4/2/2025).
Maddukelleng Dg Silasa adalah Raja Kerajaan Tanete yang berjuang sampai titik darah penghabisan dalam peperangan melawan pasukan Serang yang berusaha menguasai Kerajaan Tanete.
Kerajaan Tanete adalah salah satu kerajaan besar di Pulau Selayar yang pernah berjaya pada masanya. Pada masa pemerintahannya, Bulaenna Parangia sangat dihormati dan dicintai oleh rakyatnya.
Bentuk penghormatan dan cinta rakyat ini diwujudkan dalam bentuk epik berjudul “Bulaenna Parangia”, sebuah sinrilik (nyanyian lokal Makassar) yang menggambarkan hubungan harmonis antara rakyat dan rajanya. Setiap kesatuan adat di Kerajaan Tanete memiliki tradisi penghormatan terhadap raja, yang senantiasa dihormati dengan gelar-gelar khusus.
Gelar tersebut menjadi simbol kehormatan, seperti batu mulia atau perhiasan yang indah. Di kesatuan adat Parangia, rajanya diberi gelar Bulaenna Parangia (Emas dari Parangia), masyarakat adat Tonjo menyebut rajanya dengan Intanna Tonjo (Intan dari Tonjo), dan masih banyak gelar kehormatan lainnya.
Pemberian gelar ini menggambarkan keharmonisan hubungan antara raja dan rakyatnya. (*)

Iklan Bersponsor Google
Leave a Reply